LAPORAN MAKALAH OBERVASI
DESA IWUL, KEC. PARUNG, BOGOR
Dosen Pembimbing:
Siti Nadroh,MA
Di susun oleh
Muhammad Soleh :
11150321000069
FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraakatuh
Dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-nya sehinggasaya dapat
menyelesaikan laporan observasi ini dengan
baik. Shalawat serta salam senantiasa tak lupa tercurahkan kepada junjungan
nabi Muhammad SAW.
Tidak lupa pula saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Siti Nadroh
selaku Dosen mata kuliah Agama-Agama Lokal beserta warga Desa Iwul kampung
Lengkong Barang, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, atas bantuan dan masukan
beserta dukungannya dalam menyusun laporan observasi ini.
Besar harapan saya laporan observasi ini
dapat bermanfaat dan memberi pelajaran kepada para pembaca, namun laporan ini
masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kritik dan saran dari berbagai pihak
sangat saya harapkan agar kedepannya saya dapat menyusun laporan yang lebih baik.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraakatuh
Muhammad Soleh
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada dasarnya setiap Negara memiliki
cirri khas adat istiadat. Bahkan terkadang disuatu daerah tertentu pun memiliki
berbagai keunikannya yang berbeda-beda, di Indonesia sendiri memiliki berbagai
budaya, adat istiadat, kesenian, pakaian adat, hingga masyarakat adat. Dari
berbagai macamnya kebudayaan yang berada di Indonesia itu sendiri, perlu adanya
peran masyarakat serta pemerintah dalam turut melestarikan budaya leluhur
mereka itu sendiri agar tetap terawat serta terjaga dengan baik.
Desa merupakan kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkann asal usul dan adat
istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Sebagian kesatuan masyarakat hukum,
desa perlu untuk memikirkan bagaimana kondisi desanya dimasa yang akan datang,
sehingga desa tersebut bertambah maju.
B.
Permasalahan
“Desa Iwul
dahulu terkenal dengan desa agamis,” kata Kepala Desa Iwul, Ir. Dedi Junaedi. Hampir
seluruhnya penduduk Desa Iwul beragama Islam. Hal ini ditunjukkan oleh adanya
beberapa Majelis Ta’lim dengan kegiatan-kegiatannya yang rutin, seperti ceramah
dan pengajian. Namun kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini lebih banyak
diikuti oleh masyarakat yang sudah lanjut usia, atau para ibu-ibu. Kebudayaan
Islam di Desa Iwul pun didukung oleh kegiatan keagamaan lainnya yaitu Shalat
Jumat yang penceramahnya menggunakan bahasa adat sekitar. Namun jarang sekali
ditemukan di Desa ini sekolah sekolah yang mempunyai bidang pada Ilmu Agama
Islam, contohnya seperti MI, MTS, ataupun MA. Masyarakat desa ini sering kali
tidak melanjutkan sekolah lagi setelah lulus dari Sekolah Dasar.
Hal
tersebut menunjukan bahwa kegiatan keagamaan Islam di Desa Iwul bukan hanya
menjadi pembatas media ibadah bagi masyarakat tapi menjadi media untuk
mempertahankan dan mendapatkan kekuasaan bagi beberapa orang yang memiliki
kepentingan pribadi dan bagi golongannya.
Begitu
banyak permasalahan kegiatan keagamaan di Desa Iwul, sehingga aspek ini menjadi
salah satu aspek paling penting bagi desa ini karena dengan nilai keagamaan
Islam yang tumbuh dan berkembang di Desa Iwul ini, menunjukan bahwa tingkat
keagamaan Islam sangat kental dan sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat dari
perilaku dan kegiatan sehari-hari dari masyarkat Desa Iwul yang tidak lepas
dari pengaruh agama Islam seperti saat ini.
Aspek
keagamaan yang tergambar di atas tidak lepas dari berbagai permasalahan, baik
itu permasalahan yang menyangkut teknis atau pemahaman. Salah satu permasalahan
yang muncul dalam aspek keagamaan di Desa Iwula dalah permasalahan mengenai
teknis ibadah. Masalah tersebut telah berlangsung lama, walaupun tidak
menghasilkan sebuah konflik sosial yang besar, masalah itu semakin
mengakar pada pemahaman masyarakat Desa Iwul yang memiliki pemahaman yang
berbeda.
Masyarakat
yang dianggap tidak memiliki pemahaman yang sama dengan kebanyakan orang akan
dijauhi dan dapat dibilang diasingkan dari berbagai macam kegiatan masyarakat.
Bahkan ketika saya mewawancarai salah satu tokoh agama setempat yang mengatakan
bahwa begitu banyak aliran keagamaan Islam di Desa Iwul ini dapat memicu sebuah
konflik besar di kemudian hari.
Selanjutnya,
masalah keagamaan yang sering muncul adalah kosongnya tempat ibadah umat Islam,
yaitu masjid di Desa Iwul. Maksudnya adalah, minimnya kesadaran masyarakat
untuk menggunakan masjid sebagai tempat ibadah. Sehingga ketika masyarakat
melakukan shalat lima waktu di beberapa masjid di Desa Iwul hanya terlihat
tidak lebih dari 10 orang yang shalat di masjid. Terlebih lagi yang berada di
dalam masjid kebanyakan adalah orang tua.
Selanjutnya,
tidak terdapat pembinaan remaja dalam tataran keagamaan Islam. Sehingga ada
ketakutan yang akan segera datang terhadap pola hidup remaja yang akan rusak
tanpa ada pembinaan keagamaan Islam karena saya yakin jika tidak ada pembinaan
remaja, remaja akan hancur dan jauh dari istilah agama.
C.
Rencana Kegiatan Yang akan di Lakukan
Perbedaan paham antar umat beragama
bahkan dalam satu agama adalah hal wajar. Jika kita mencari kebenaran hal
mengenai hal tersebut, apa yang menjadi indikator kebenaran tersebut? Al-Quran,
jawabannya. Solusi yang menurut saya menjadi solusi yang akan membawa
ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan umat Islam adalah dengan mengembalikan
pemahaman pada Al-Quran. Nyatanya, beberapa aliran Islam yang muncul sekarang
ini telah menyimpang. Tapi bagaimana solusi tersebut akan berjalan? Pemerintah
adalah salah satu elemen masyarakat yang memegang kendali penuh terhadap
permasalahan ini. Selanjutnya tokoh-tokoh agama Islam juga harus berpikir
dengan bijak dalam memutuskan segala kebijakan yang dapat menyelamatkan
kegiatan masyarakat di Desa Iwul.
Pusat peribadahan umat Islam dengan
mudah dapat saya temukan di Desa Iwul ini, bahkan setiap RW dan RT setidaknya
memiliki satu masjid. Namun sangat disayangkan keberadaan masjid tersebut tidak
menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk menggunakannya. Oleh karena itu harus
ditanamkannya pemahaman pentingnya masjid bagi umat Islam melalui pengajian
yang selau diselenggarakan di Desa Iwul. Satu pesan yang mungkin baik bagi para
tokoh-tokoh agama Islam Desa Iwul adalah mau berbaur dengan masyarakat luas,
karena menurut analisis masyarakat asli Desa Iwul dan beberapa tokoh agama
Islam di Desa Iwul terlalu terbuai oleh kegiatan ritualitas saja tanpa
melakukan kegiatan ibadah non-ritualitas. Sehingga citra yang terbangun pada
diri beberapa tokoh agama Islam di Desa Iwul adalah para orang suci yang enggan
menyelamatkan tangan-tangan penuh dosa masyarakat Desa Iwul.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang
berhasil dan dapat menghasilkan generasi muda yang dibalut oleh ahlak dan
akidah yang baik akan maju di atas bangsa-bangsa lain. Namun Anda akan sedang
memikirkan apa yang saya sebut dengan kehancuran bangsa ketika remaja yang
seharusnya dapat menopang kemajuan bangsa malah menjadi belatung yang siap
menggorogoti bangsa ini dengan mudah. Gambaran tersebut sepertinya akan berlaku
bagi remaja di Desa Iwul jika tidak terdapat pembinaan remaja yang akan sangat
baik dilakukan oleh para tokoh-tokoh agama Islam karena agama Islam akan
menjaga dan menyelelamatkan mereka dan lingkungannya dari kehancuran. Oleh
karena itu, perlu adanya program pembinaan remaja di Desa Iwul.
BAB
II
PELAKSANAAN
KEGIATAN
A.
Hari
Pelaksanaan
Kegiatan Observasi ini dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu-Minggu, 15 s.d 16 April 2017
Tempat :
Desa Iwul, Kampung Lekong Barang,
Kecamatan Parung, Bogor.
B.
Mekanisme
Kegiatan
Seperti
kegiatan-kegiatan pada umumnya, persiapan adalah usaha yang tidak boleh
ketinggalan dalam melaksanakan kegiatan. Karena dengan persiapan yang matanglah
sebuah kegiatan akan terlaksana dengan baik. Selain sebagai acuan salama
kegiatan, persiapan juga bermanfaat menyatukan persepsi antara apa yang kita
konsep dengan apa yang kita lakukan.
Hal yang masih
teringat dalam memori saya berkenaan persiapan observasi ini adalah waktu
survay pertama kali di Desa Iwul ini. Bingung ? mungkin itu yang saya rasakan
pertama kali, karena entah saya ini mau kemana, mau ngapain saya juga tidak
tau.
Namun dengan
tekad, saya memberanikan diri untuk mencari informasi bahan laporan nantinya.
Cukup lama waktu yang saya pergunakan untuk survey pertama kali ini, karena
saya harus keliling-keliling desa terlebih dahulu. Setelah saya rasa sudah
terlalu jauh keliling desa, saya pun putar balik ke desa yang saya kira sesuai
dengan kriteria dari apa yang sudah saya konsep dari jauh- jauh hari.
Sesampainya saya di tempat yang saya rasa itu sesuai dengan kriteria tadi, saya
pun berhenti sejenak di warung kecil sambil bertanya-tanya tentang desa itu.
Setelah saya rasa cukup dengan hasil informasi yang saya dapat dari ibu penjaga
warung kecil itu, saya pun sepakat untuk bersilaturahmi terlebih dulu ke
aparatur di desa itu, yaitu pak RW Nita Sugandi yang biasa akrab di panggil RW
Botek.
Kurang lebih jam 17.00 Saya pun di
terima dengan hangat di rumah pak RW tersebut. Singkat cerita saya pun
menceritakan apa maksud dan tujuan saya di sini. “Dengan senang hati jika
kalian mau observasi di Desa ini”, kata Pak RW Botek. Tepatnya di Desa
Iwul, kampung Lekong Barang, Rw.02, Kec. Parung, Kab. Bogor yang terdiri dari 4
Rt ini.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alhamdulillah observasi
ini berjalan dengan baik, dengan adanya observasi ini saya jadi paham akan
penting nya berbaur di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
B.
Pesan
Pesan moral dan materil dari observasi ini adalah tentang
penghargaan terhadap nilai-nilai social yang ada di masyarakat. Hargailah
setiap proses dan jangan pernah menganggap remeh suatu kemajuan walau hanya
setitik belaka.
Proses yang kuat menghasilkan pribadi kuat. Proses yang mantap
menghasilkan pribadi yang siap mengambil keputusan ditengah permasalahan.
C.
Saran
Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca sebagai referensi dalam
pembuatan laporan observasi dan juga dapat bermanfaat bagi kelurahan Sukanegara
sebagai suatu objek pembahasan penulis.
Dalam penulisan laporan ini penulis memahami masih banyak
kekurangan atau kesalahan dalam penyusunannya, oleh karena itu penulis menerima
kritik maupun saran yang membangun untuk memperbaiki hasil laporan ini.
D.
Kesan
Kesan yang saya dapatkan dan
membekas adalah hubungan interaksi keagamaan yang ada di desa ini. Hal ini
membuat saya semakin tersadar bahwa sangat penting untuk langsung terjun
melihat permasalahan yang ada didalam sebuah masyarakat.

Komentar
Posting Komentar