makalah agama tradisional suku jawa

MAKALAH
AGAMA TRADISIONAL ORANG JAWA
MATA KULIAH AGAMA-AGAMA LOKAL
   

Dosen Pembimbing : Siti Nadroh, M.Ag
Disusun oleh :
Muhammad Soleh : 11150321000069

FAKULTAS USHULUDDIN
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI  SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Agama Tradisional Orang Jawa yang mana tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas diskusi mata kuliah Agama-Agama Lokal.
Dalam penyusunan makalah ini kami berusaha memaparkan dan menjelaskan tentang kepercayaan Tradisional Orang Jawa, Upacara Keagamaan, Kepercayaan Kejawen, Kitab-kitab Kejawen dan Interaksi Kepercayaan Orang Jawa . Kami menyadari, tidak ada manusia yang sempurna, sehingga bila terdapat kesalahan, baik dalam penulisan atau dalam pembahasan makalah ini, dimohon kritik dan sarannya. Agar dapat kami jadikan referensi di masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menyumbang ilmu dan Pengetahuan dalam bidang kajian Agama Tradisional orang Jawa semestinya.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Lebih menarik lagi, hampir setiap wilayah kejawen memiliki pedoman khusus khas Jawa, memiliki kosmogoni (asal-usul) kepercayaan dan mitos yang berbeda-beda serta unik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Kepercayaan tradisional Jawa dan aneka  laku yang dipraktekkan Orang Jawa sehari-hari ?
2.      Upacara Keagamaan dan Makna Keselamatan Orang Jawa ?
3.      Kepercayaan Kejawen (Kepercayaan Orang Abangan Di Jawa) ?
4.      Kitab-Kitab Kejawen ?
5.      Interaksi Kepercayaan orang Jawa dengan agama-agama lain ?
C.     Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui kepercayaan tradisional orang Jawa
2.      Mengetahui Upacara Keagamaan dan Makna Keselamatan Orang Jawa
3.      Mengetahui pengertian dari kepercayaan kejawen
4.      Mengetahui kitab-kitab Kejawen




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kepercayaan Tradisional Orang Jawa
Orang Jawa adalah orang yang berpenduduk asli Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berbahasa Jawa atau orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa.
Kepercayaan berasal dari kata percaya yang berarti gerakan hati dalam menerima sesuatu yang logis dan bukan logis tanpa suatu beban atau keraguan sama sekali kepercayaan ini bersifat murni. Kata ini mempunyai kesamaan arti dengan keyakinan dan agama akan tetapi memiliki arti yang sangat luas.
Kepercayaan-kepercayaan dari agama Hindu, Budha, maupun kepercayaan dinamisme dan animisme itulah yang dalam proses perkembangan Islam berinterelasi dengan kepercayaan-kepercayaan dalam Islam. Membahas mengenai kepercayaan orang Jawa sangatlah luas dan meliputi berbagai aspek yang bersifat magic atau ghaib yang jauh dari jangkauan kekuatan dan kekuasaan mereka.
Masyarakat Jawa jauh sebelum agama-agama masuk, mereka sudah meyakini adanya tuhan yang maha esa dengan berbagai sebutan diantaranya adalah “gusti kang murbeng dumadi” atau tuhan yang maha kuasa yang dalam seluruh proses kehidupan orang Jawa pada waktu itu  selalu berorientasi pada tuhan yang maha esa. Jadi, orang Jawa telah mengenal  dan mengakui adanya tuhan jauh sebelum agama masuk ke Jawa ribuan tahun yang lalu dan sudah menjadi tradisi sampai saat ini yaitu agama kejawen yang merupakan tatanan “pugaraning urip” atau tatanan hidup berdasarkan pada budi pekerti yang luhur. [1]
Keyakinan terhadap tuhan yang maha esa pada tradisi Jawa diwujudkan berdasarkan pada sesuatu yang nyata, riil atau kesunyatan yang kemudian direalisasikan pada tata cara hidup dan aturan positif dalam kehidupan masyarakat Jawa, agar hidup selalu berlangsung dengan baik dan bertanggung Jawab.[2]
B.     Aneka Laku Orang Jawa
Sebagai sebuah sistem pemikiran, Jawanisme atau kejawen itu cukup rumit dan luas meliputi:
1.      Kosmologi
Kosmologi berasal dari bahasa yunani yaitu kosmos yang berarti susunan atau ketersusunan yang baik. Kosmos merupakan dunia (universe). Orang Jawa memandang alam terdiri dari empat unsur, yaitu:
Ø  Api merupakan emosi.  Contohnya di gunung berapi
Ø  Air merupakan roh. Contohnya di pantai parang tritis
Ø  Tanah merupakan dari mana kita manusia diciptakan.
Ø  Angin merupakan perasaan.
Kebudayaan Jawa mengajarkan hubungan yang harmoni antara makrokosmos (alam raya), mikrokosmos (alam manusia), dan metakosmos (kekuatan ghaib). Contohnya keraton jogja.
Hubungan antara mikrokosmos (jagat cilik) dengan makrokosmos (jagat gede) sangat erat. Masyarakat dahulu selalu menjaga ketertiban alam semesta (jagat gede) dengan melalui penjagaan terhadap jagat cilik (akhlak dan spiritual) manusia.
2.      Mitologi
Mitologi adalah ilmu tentang mitos. Mitos adalah cerita suci berbentuk simbolik yang mengisahkan serangkaian peristiwa nyata dan imajiner menyangkut asal-usul dan perubahan-perubahan alam raya dan dunia, dewa-dewi, kekuatan atas kodrati, manusia, pahlawan, dan masyarakat.[3]
§  Ciri-ciri Mitos:
a)      Memiliki sifat suci atau sakral, karenanya terkait dengan tokoh  yang sering dipuja.
b)      Dijumpai dalam dunia mitos bukan dalam dunia kehidupan sehari-hari atau pada masa lampau yang nyata.
c)      Menunjukan pada kejadian kejadian larangan tertentu.
d)     Kebenaran mitos tidak penting.
§   Macam-macam mitos :
a)      Mitos berupa gugoh tuton yaitu mitos yang berupa larangan-larangan tertentu.
b)      Mitos berupa bayangan asosiatif   yaitu mitos yang  biasanya muncul dalam dunia mimpi.
c)      Mitos yang berupa dongeng, legenda, dan cerita-cerita yaitu mitos yang diyakini karena memiliki legitimasi yang kuat dalam alam pikiran masyarakay Jawa.
d)     Mitos yang berupa sirikan yaitu mitos yang Bernafas asosiatif, tetapi tekanan utama pada aspek ora ilok.
§  Contoh mitos populer masyarakat Jawa:
a)      Mitos Semar
Tokoh satu ini selalu ditinggikan dalam segala hal yang menyangkut tata hidup kehidupan Jawa.
b)      Mitos Dewi Sri
Dewi Sri oleh orang Jawa diyakini sebagai dewa padi. Dia adalah pembawa berkah dalam bidang pertanian.
c)      Mitos Nyai Ratu Roro Kidul
Patokan keraton Yogyakarta bahwa ratu kidul adalah sosok kekuaan magis yang patut dipuja.
d)     Mitos Aji Saka
Orang Jawa menganggap Aji Saka yang madhangake kawruh, artinya yang menaburkan kepandian kepada orang Jawa.[4]
3.      Mistisisme
Kata mistisme berasal dari bahasa yunani yaitu mystikos yang artinya rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman. Sedangkan secara istilah mistisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.
Salah satu contoh upacara adat Jawa yang mengandung hal mistis adalah ruwatan. Koentjaraningrat memasukkan upacara ngruwat sebagai ilmu ghaib protektif,yaitu upacara yang dilakukan dengan maksud untuk menghalau penyakit dan wabah, membasmi hama tanaman dan sebagainya, yang sering kali menggunakan mantra-mantra untuk menjauhkan penyakit dan bencana.
C.     Upacara Keagamaan dan Makna Keselamatan Orang Jawa
Tindakan-Tindakan Keagamaan Kita dapat membedakan adanya berbagai tindakan keagamaan dalam sistem sosial Agami Jawi. Upacara terpenting adalah upacara makan bersama, yang dalam bahasa disebut wilujengan (Krami) atau slametan (Ngoko). Berikut berbagai ritus dan upacara keagamaaan yang mengandung tingkah laku keagamaan Suku Jawa, yaitu :

a)      Slametan Atau Wilujengan
Adalah suatu upacara pokok atau unsur terpenting dari hampir semua ritus dan upacara dalam sistem religi orang Jawa pada umumnya dan penganut Agami Jawi khususnya. Salah satu aktivitas keagamaan penting lain dalam sistem religi Agami Jawi yaitu kunjungan ke makam nenek moyang yang disebut nyekar. Suatu slametan biasanya diadakan di rumah keluarga dan dihadiri keluarga, kerabat dan tetangga. Slametan biasanya diadakan pada malam hari. Para tamu duduk di atas tikar dan di tengah-tengahnya diletakkan dua atau tiga buah tampah berisi hidangan slametan berisi nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauk dan hiasannya.
Setelah semuanya siap, modin atau kaum diminta untuk mempersilahkan doa (ndonga) yang terdiri dari ayat-ayat Al Qur’an. Selesai mengucapkan maka modin dipersilahkan oleh tuan rumah untuk mulai menyantap hidangan disusul para tamu. Upacara slametan sering kali dilanjutkan dengan dhikir mengucapkan “La‘illaha Illallah” secara berulang-ulang. Geertz menjelaskan bahwa slametan tidak hanya diadakan dengan maksud untuk memelihara solidaritas antara para peserta upacara, dan setiap upacara itu bersifat religi. Padahal tidak semua slametan bersifat religi. Slametan bersifat keramat adalah upacara slametan di mana orang-orang yang mengadakannya merasakan getaran emosi kramat.[5]
Upacara slametan yang bersifat keramat melibatkan semua warga desa adalah upacara bersih dusun. Upacara keramat pada hari besar agama Islam misalnya Bakda besar, Saparan, Dina Wekasan Muludan, dan lainnya.
Upacara slametan yang bersifat keramat dari individu adalah ngruwat, dan yang tidak keramat misalnya penyerahan mas kawin, pindah rumah, memasuki rumah baru, ganti nama dan lainnya. Upacara-Upacara Sepanjang perlu dalam banyak agama dan terutama dalam sistem Agami Jawi.

b)      Upacara puput puser
Diadakan pada malam hari setelah tali puser terlepas, dengan mengadakan berbagai ritual. Tali pusat yang telah terlepas dan menjadi kering dibungkus kain bersama rempah-rempah, dijahit dan menjadi jimat.
c)      Upacara Memberi Nama
Upacara ini dilakukan pada hari ketujuh setelah bayi dilahirkan.
d)     Upacara Kekah
Upacara ini dilakukakan yang taat menjalankan ajaran Islam mengadakan suatu upacara berkorban pada hari ketujuh kelahiran bayi yaitu upacara kekah, sekaligus pemberian nama. Semua rambut di kepala dicukur, kecuali dibagian ubun-ubun.
Penganut Agami Jawi juga mengadakan upacara kekah, tetapi dengan upacara pemotongan rambut sebagai unsur yang utama, bukan unsur berkorbannya.
e)      Upacara Nyepasari
Banyak hidangan yang disediakan, menandakan upacara ini penting. Orang Jawa percaya apabila ada kekurangan dalam jumlah macam atau hidangan maka akan berpengaruh pada kepribadian anaknya.
Selanjutnya ada upacara lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu nyelapani, yang diadakan saat bayi berumur 35 hari jatuh pada hari weton pertama. Baik para penganut Agami Jawi yakin bahwa tidak baik apabila dalam satu keluarga ada orang yang sama wetonnya.[6]
f)       Tedhak Siten, Atau Upacara Menyentuh Tanah Upacara
Upacara yang selalu diadakan pada pagi hari ini menggunakan berbagai benda, yaitu sebuah karungan ayam, sebuah tampah dengan nasi kuning, dan beberapa mata uang. Kecuali itu ada tujuh buah tampah yang masing-masing berisi sebuah tumpeng dan tujuh buah tampah yang masing-masing berisi juadah dengan warna yang berbeda-beda. Ketujuh tampah ini disusun menuju kesebuh tangga kecil yang terbuat dari batang tebu. Selain itu, masih ada sejumlah sajian yang terdiri dari berbagai macam buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, kue dan juadah. Upacara ini biasanya ditontong oleh seluruh keluarga, beberapa orang tetangga terdekat, dan anak-anak kecil yang tinggal berdekatan.
g)      Khitanan Upacara
Orang Jawa pada umumnya menganggap khitanan sebagai suatu upacara untuk meresmikan diri masuk Islam, dan dalam buku hukum dari ajaran Shafi’, khitanan (sunatan) itu memang dianggap wajib dan karena itu upacara itu seringkali juga disebut ngIslamaken yang berarti “mengIslamkan”.
Anak pria yang sudah dikhitan dinamakan jaka. Setelah melakukan khitan, siang harinya diadakan slametan yang dinamakan slametan jenang abrit.
Upacara yang sama untuk anak wanita adalah upacara kafad yang sebenarnya hanya merupakan suatu upacara lambang saja, karena pada diri anak itu tidak dilakukan mutilasi pada alat kelaminya. Upacara ini dilakukan setelah seorang anak gadis mendapat haid pertamanya.
h)      Pemakaman Dan Ritus Kematian
Apabila ada orang meninggal, maka hal pertama yang dilakukan oleh orang Jawa adalah untuk memanggil seorang modin, dan mengumumkan kematian itu kepada sanak saudara dan tetangga. Sekarang orang lebih sering pergi ke dokter atau ke Puskesmas terdahulu dan baru kemudian mencari modin serta memberi kabar kepada orang-orang sekitarnya. Setelah itu dilakukan tata urut upacara pemakaman, mulai dari memandikan jenazah sampai memakamkannya. [7]
Orang Jawa tidak diperbolehkan menangisi kematian seorang anggota keluarga secara berlebih-lebihan, dan sebaliknya harus bersikap ikhlas melepas kepergiannya dan menerima nasibnya dengan tawakal. [8]
D.    Kepercayaan Kejawen (Kepercayaan orang abangan di Jawa)
Kejawen adalah sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dikatakan agama yang terutama yang dianut di pulau Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa.
Agama kejawen sebenarnya adalah nama sebuah kelompok kepercayaan-kepercayaan yang mirip satu sama lain dan bukan sebuah agama yang terorganisir seperti agama Islam atau agama kristen.
Ciri khas dari agama kejawen adalah adanya perpaduan antara animisme, agama Hindu dan Budha. Namun pengaruh agama Islam dan agama kristen. Nampak bahwa agama ini adalah sebuah kepercayaan sinkretisme (suatu proses terjadinya pertemuan dua buah kebudayaan dan tidak menghilangkan jati diri masing-masing).[9] 
Atau juga yang disebut dengan Abangan. Abangan adalah orang muslim yang ibadahnya belum seberapa, sementara cara hidupnya masih dipengaruhi oleh tradisi Jawa pra Islam.[10]
Bagi kalangan abangan yang terdiri dari petani dan proletar, slametan adalah bagian dari kehidupannya. Dalam tradisi slametan dikenal adanya siklus slametan: yang berkisar krisis kehidupan, yang berhubungan dengan pola hari besar Islam namun mengikuti penanggalan Jawa, yang terkait dengan integrasi desa, bersih desa (nyadranan), slametan sela untuk kejadian luar biasa yang ingin dIslameti. Semuanya menunjukkan betapa slametan menempati setiap proses kehidupan dunia abangan. Slametan berimplikasi pada tingkah laku sosial dan memunculkan keseimbangan emosional individu karena telah dIslameti.[11]
Kepercayaan kepada roh dan makhlus halus bagi abangan menempati kepercayaan yang mendasari misalnya perlunya mereka melakukan slametan. Mereka percaya adanya memedi, lelembut, tuyul, demit, danyang, dan bangsa alus lainnya. Hal yang berpengaruh atas kondisi psikologis, harapan, dan kesialan yang tak masuk akal. Semuanya melukiskan kemenangan kebudayaan atas alam, dan keunggulan manusia atas bukan manusia.[12]
Kalau kepercayaan mengenai roh dan berbagai slametan merupakan dua sub katagori daripada agama abangan, maka yang ketiga adalah kompleks pengobatan, sihir dan magi yang berpusat pada peranan seorang dukun.[13]
a.       Kejawen Islam
Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen bersumber dari alkulturasi (penggabungan) budaya Jawa dan nilai-nilai agama Islam. Ciri khas aliran ini adalah doa-doa yang diawali basmalah dan dilanjutkan kalimat bahasa Jawa, kemudian diakhiri dengan dua kalimat sahadad. Aliran Islam Jawa tumbuh syubur di desa-desa yang kental dengan kegiatan keagamaan (pesantren yang masih tradisional). Awal mula aliran ini adalah budaya masyarakat Jawa sebelum Islam datang yang memang menyukai kegiatan mistik dan melakukan ritual untuk mendapatkan kemampuan suparantural. Para pengembang ajaran Islam di Pulau Jawa (Wali Songo) tidak menolak tradisi Jawa tersebut, melainkan memanfaatkannya sebagi senjata dakwah.[14]
b.      Struktur ajaran dan aliran Kejawen
Setiap perilaku manusia akan menimbulkan bekas pada jiwa maupun badan seseorang. Perilaku-perilaku tertentu yang khas akan menimbulkan bekas yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Perilaku tertentu ini disebut dengan tirakat, ritual, atau olah rohani. Tirakat bisa diartikan sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan suatu ilmu.
§  Penabungan Energi.
Karena setiap perilaku akan menimbulkan bekas pada seseorang maka ada suatu konsep yang khas dari ilmu Gaib Aliran Islam Jawa yaitu Penabungan Energi. Jika badan fisik anda memerlukan pengisian 3 kali sehari melalui makan agar anda tetap bisa beraktivitas dengan baik, begitu juga untuk memperoleh kekuatan supranatural, Anda perlu mengisi energi. Hanya saja dalam Ilmu Gaib pengisian energi cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu yang ingin dikuasai. Cara-cara penabunganenergi lazim disebut Tirakat.
§  Tirakat
Aliran Islam Kejawen mengenal tirakat (syarat mendapatkan ilmu) yang kadang dianggap kontroversial oleh kalangan tertentu. Tirakat tersebut bisa berupa bacaan doa. wirid tertentu, mantra, pantangan, puasa atau penggabungan dari kelima unsur tersebut. Ada puasa yang disebut patigeni (tidak makan, minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain. Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu.Seseorang harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang melakukan tirakat.[15]
§  Khodam
Setiap Ilmu Gaib memiliki khodam. Khodam adalah mahluk ghaib yang menjadi "roh" suatu ilmu. Khodam itu akan selalu mengikuti pemilik ilmu. Khodam disebut juga Qorin, ialah mahluk ghaib yang tidak berjenis kelamin artinya bukan pria dan bukan wanita, tapi juga bukan banci. Dia memang diciptakan semacam itu oleh Allah dan dia juga tidak berhasrat kepada manusia. Hal ini berbeda dengan Jin yang selain berhasrat kepada kaum jin sendiri kadang juga ada yang "suka" pada manusia.
E.     Kitab-kitab Kejawen
a.       Serat Wulang Reh
Wulang Reh atau Serat Wulangreh adalah karya sastra berupa tembang macapat karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta, yang lahir pada 2 September 1768. Dia bertahta sejak29 November 1788 hingga akhir hayatnya pada 1 Oktober 1820.
Naskah Wulang Reh saat ini disimpan di Museum Radya Pustaka di Surakarta Kata Wulangbersinonim. Kata Reh berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya jalan, aturan dan laku cara mencapai atau tuntutan. Wulang Reh dapat dimaknai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksud dalam karya ini adalah laku menuju hidup harmoni atau sempurna.[16]
b.      Serat Wedhatama
Serat Wedhatama adalah sebuah karya sastra Jawa Baru yang bisa digolongkan sebagai karya moralistis-didaktis yang sedikit dipengaruhi Islam. Karya ini secara formal dinyatakan ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV. Walaupun demikian didapat indikasi bahwa penulisnya bukanlah satu orang.
Serat ini dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Bentuknya adalah tembang, yang biasa dipakai pada masa itu.
Serat ini terdiri dari 100 pupuh (bait, canto) tembang macapat, yang dibagi   dalam lima lagu, yaitu
§  Pangkur (14 pupuh, I - XIV))
§  Sinom (18 pupuh, XV - XXXII)
§  Pocung (15 pupuh, XXXIII - XLVII)
§  Gambuh (35 pupuh, XLVIII - LXXXII)
§  Kinanthi (18 pupuh, LXXXIII - C)
c.       Serat Wirid Hidayat Jati
Gambaran umum dan garis besar isi serat Wirid Hidayat Jati ini sebagaimana Damogandhul dan Gatholoco dipergunakan oleh Prof. Dr. H. M. RRasasyidi untuk menggambarkan apa yang dinamakan Aliran Kebatinan. Jadi dijadikan sampel yang mewakili aliran Kebatinan. Sedang Dr. Harun. Hadiwijono menganggapnya sebagai wakil kebatinan Jawa Abad 19. Dan maksud dari kebatinan Jawa disini ialah mistikisme. Dr. Harun Hadiwijono menamakannya sebagai Kebatinan Jawa Abad Sembilan Belas.[17]
Serat Wirid Hidayat Jati merupakan salah satu dari sekian banyak hasil karya pujangga masyhur kraton Surakarta Raden Ngabehi Rongggowarsito. Tulisan ini disempurnakan atau diselesaikan penulisnya pada tahun Jawa 1791 atau tahun 1862 yang ditulis dalam bahasa Jawa karma gancaran (prosa) yang halus dan indah dengan tulisan huruf Jawa. Kemudian dibangun kembali diantaranya oleh R. Tanoyo yang menyadari dengan dilatinkan, maka mudah membacanya walaupun belum pasti mudah pula mengambil pengertiannya. Ada juga orang lain yang mengubah ke dalam huruf latin, yaitu Honggopradoto.[18]
d.      Kitab Darmogandul
Banyak versi yang menjelaskan tentang kitab Darmogandul, terutama tentang jati diri orang yang menulis kitab tersebut dan kapan kitab tersebut ditulis. Ada sebagian kalangan yang menyatakan bahwa kitab tersebut ditulis oleh Ki Kalamwadi yang mempunyai guru bernama Raden Budi Sukardi. Ki Kalamwadi ini mempunyai murid yang bernama Darmo Gandhul. Nama dari muridnya inilah yang kemudian menjadi nama kitabnya. Dalam versi itu juga disebutkan bahwa kitab ini ditulis pada tahun 1478 M, yakni ketika kerajaan Majapahit masih berdiri.
e.       Kitab Gatoloco
Adapun “kitab suci” aliran kebatinan yang mirip dengan Darmogandul adalah Gatoloco. Kitab ini diperkirakan sudah ada pada abad ke 19 M. Gatoloco sendiri adalah nama tokoh utama dari kitab tersebut. Dia digambarkan memiliki wajah dan penampilan yang buruk. Orangnya kerdil, tidak memiliki mata, hidung, dan telinga.
Gambaran Suluk gatholoco ini pengarangnya sulit ditentukan, karena keterangan yang terdapat di dalam versi-versinya memberikan informasi yang berbeda-beda. Versi terbitan Tan koen Swie Kediri, memyebutkan Kaimpun dening Raden Soewandi, yang lain mengatakan bahwa suluk ini disusun oleh seorang yang bernama Soeryanegara.
Yang lain lagi mengatakan pengarangnya Raden Ngabehi Ranggawarsitama. Ada sarjana yang hanya berani mengatakan bahwa pengarangnya adalah seorang bangsawan tinggi Kediri. Namun yang jelas Suluk Gatholoco banyak dikenal masyarakat. Prof. Dr.H.M. Rasyidi menjadikannya menjadi sampel dari apa yang dinamakan aliran kebatinan, walaupun tidak tepat benar, karena kemistikannya tidak sejelas Serat Dewa Ruci. Karena banyak dikenal masyarakat Jawa, maka tidak mustahil isi, ajaran serta kepercayaan yang terdapat di dalamnya memang merupakan kepercayaan atau pandangan hidup sebagian masyarakat Jawa.[19]







BAB I11
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sebelum agama-agama masuk beribu tahun lalu orang Jawa mempercayai adanya Tuhan yang diwujudkan melalui hal-hal yang nyata yang disebut Agama Kejawen. Yaitu perpaduan antara animisme, agama Hindu dan Budha.
Secara garis besar orang Jawa mempercayai tujuan yang sama yaitu memcapai kebahagiaan lahir dan bathin, menghormati orang lain dan selalu hidup berdampingan demi tercapainya tatanan masyarakat yang harmonis.
Masyarakat Jawa jauh sebelum agama-agama masuk, mereka sudah meyakini adanya tuhan yang maha esa dengan berbagai sebutan diantaranya adalah “gusti kang murbeng dumadi” atau tuhan yang maha kuasa yang dalam seluruh proses kehidupan orang Jawa pada waktu itu  selalu berorientasi pada tuhan yang maha esa. Jadi, orang Jawa telah mengenal  dan mengakui adanya tuhan jauh sebelum agama masuk ke Jawa ribuan tahun yang lalu dan sudah menjadi tradisi sampai saat ini yaitu agama kejawen yang merupakan tatanan “pugaraning urip” atau tatanan hidup berdasarkan pada budi pekerti yang luhur



DAFTAR PUSTAKA
Astianto, Meni. Filsafat Jawa. (Yogyakarta : Waita Pustaka, 2006)
Damami, Muhammad. Makna Agama dalam Masyarakat Jawa. (Yogyakarta : IESFI. Cet 1. 2002)
Geertz, Clifford. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. (Jakarta : Pustaka Jaya, 1983
Hasan, Thoihah. Aswaja Dalam Presepsi Dan Tradisi NU. (Jakarta: Lantabora Press. 2003)
Jamil, Abdul dkk. Islam Dan Kebudayaan Jawa. (Yogyakarta : Gama Media, 2002)
Mukhtarom, Zain. Islam Di Jawa Dalam Perspektif Santri dan Abangan. (Jakarta : Salemba Diniyah, 2002)
Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. (Jakarta: UI Press. Cet.1,1988)
Purwadi dan Djoko Dwiyanto,  Filsafat Jawa: Ajaran Hidup Yang Berdasarkan Nilai Kebijakan Tradisional (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2006),




[1] Damami, Muhammad. Makna Agama dalam Masyarakat Jawa. (Yogyakarta : IESFI. Cet 1. 2002)

[2]  Meni Astianto. Filsafat Jawa (Yogyakarta: Warta Pustaka.2006).h.20
[5] M.H.As’ad El Hafidy. 1982. Aliran-Aliran Kepercayaan dan Kebatinan Di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.


[6] Jamil, Abdul dkk. Islam Dan Kebudayaan Jawa. (Yogyakarta : Gama Media, 2002)

[7] Widagdho, Djoko. Ilmu Budaya Dasar.hlm:11-20

[8] Endraswara Suwardi. 2005. Budaya Jawa. Yogyakarta: Gelombang Pasang.
[9] Muchtarom, Zaini, Islam Di Jawa Dalam Perspektif Santri Dan Abangan, Jakarta: Salemba Diniyah, 2002.
[10] Widagdho, Djoko. Ilmu Budaya Dasar.hlm:11-20

[11] Clifford Geertz. Abangan,Santri,Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. (Jakarta:Pustaka Jaya.Cet.II,1983).h.17-18
[12] Ibid., h. 36
[13] Ibid., h. 116
[14] https://id.wikipedia.org/wiki/Wulang_Reh diakses pada tanggal 19 Maret 2017

[15] Clifford Geertz. Abangan,Santri,Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. (Jakarta:Pustaka Jaya.Cet.II,1983).h.17-18

[16] https://id.wikipedia.org/wiki/Wulang_Reh diakses pada tanggal 19 Maret 2017

[17] Drs. Romdon, MA. Ajaran Ontologi Aliran Kebatinan. (Jakarta: PT. Grafindo Persada. Cet.1,1996). h.69

[18] Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. (Jakarta: UI Press. Cet.1,1988). h. 69

[19] Jamil, Abdul dkk. Islam Dan Kebudayaan Jawa. (Yogyakarta : Gama Media, 2002)




Komentar